Dalammenuntut ilmu kita harus bersungguh-sungguh dan selalu antusias untuk mendapatkan ilmu. Seolah-olah tidak pernah kenyang dengan ilmu yang didapatkan, hendaknya kita selalu berkeinginan untuk menambah ilmu kita. Salah satu adab dalam menuntut ilmu yang banyak ditinggalkan adalah diam ketika di beri penjelaskan. Jangan berbicara atau Syeikhaz-Zarnujiy, dalam pengantar kitab ta'lim al-muta'allim, menjelaskan bahwa banyak pelajar yang bersungguh-sungguh dalam belajar, namun tidak mendapatkan buahnya ilmu. Apakah buah ilmu itu? buah ilmu adalah "mengamalkan ilmu" dan "menyebarluaskan ilmu". Menurut penelitian beliau, hal tersebut terjadi karena para pelajar itu salah cara dalam menuntut ilmu dan mereka juga Beliaumenjawab: "Menurut saya kau telah mendapatkan kebaikan yang amat banyak, mulazamahmu selama tujuh tahun adalah amalan yang agung yang hendaknya engkau meminta pahala kepada Allah atas amalan tersebut. menuntut ilmu itu tidak semata-mata mengumpulkan dan menghafalkan faidah ilmu, namun tujuan terbesar dari menuntut ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah ta'ala Pencipta langit dan Bersungguhsungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan. Sedangkan di dalam materi adab menuntut ilmu kita dituntut untuk memberikan perhatian penuh terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Sedangkan kalau kita membawa anak Seterusnya sekiranya seseorang itu mempunyai ilmu yang penuh di dada, pelajar tersebut boleh membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah sekali gus dapat berbakti kepada orang ramai maka ,kita perlulah bersungguh - sungguh mengejar ilmu seperti kata hikmat mencari ilmu biarlah sampai ke Negara China. Wairsyadi ustazin wa thuli zamanin.". Yang artinya: "Syarat mendapatkan ilmu itu ada enam. (Yakni) cerdas (sehat akal), rakus yaitu rakus dalam menyerap ilmu-ilmu, bersungguh-sungguh, cukupnya modal (harta, kemampuan, dan usaha yang keras), guru yang mengajarkan, dan waktu yang lama.". Di dalam dunia pesantren, keenam elemen tadi wajib A9IN7j. paling pokok ialah kesungguhan. Segala sesuatu bisa dicapai asal mau bersungguh-sungguh dan bercita-cita luhur. Barangsiapa bercita-cita ingin menguasai kitab-kitabnya Imam Muhammad bin Al Hasan, asal disertai dengan kesungguhan dan ketekunan, tentu dia akan menguasai seluruhnya, paling tidak sebagian. Jika ada yang bercita-cita ingin pandai, tapi tidak mau bersungguh-sungguh dalam belajar, tentu dia tidak akan memperoleh ilmu kecuali sedikit. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mencintai sesuatu yang luhur/tinggi dan membenci sesuatu yang rendah.” Dikatakan oleh seorang penyair, “Janganlah kamu tergesa-gesa ingin mencapai sesuatu tapi cobalah terus bersabar ulet, karena sabar itu ibarat api yang dapat melunakkan tongkat dari besi.” Dikatakan, “Penderitaan, kelemahan, dan penyesalan yang diderita manusia sering timbul dari rasa malas. Oleh karena itu, jauhilah rasa malas dan jauhi membicarakan hal-hal yang tidak jelas.” Disebutkan sungguh sifat malas itu timbul karena kurangnya perhatian terhadap keutamaan dan pentingnya ilmu. Oleh karena itu santri harus berpayah-payah dalam menuntut ilmu. Karena ilmu itu kekal sedangkan harta benda akan sirna. Sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib, “Aku senang menerima pemberian Tuhan Maha Perkasa. Kita diberi Ilmu, dan musuh-musuh kita orang-orang kafir diberi harta benda. Karena harta akan segera sirna, sedang ilmu itu abadi takkan pernah hilang.” Oleh Syaikh Az-Zamuji, Ta’lim Muta’allim [Graha Sedekah; dengan semangat baru memulai perjalanan sejak dilaunching 17 Agustus 2015. Demi menggerakkan generasi qur’ani Indonesia melalui cita-cita visioner mengenai pendidikan yang islami, akan terus berperan aktif dengan semangat tanpa henti untuk fokus mengelola potensi umat dalam rangka membangun peradaban menuju ridlo ilahi] Setiap kali penuntut ilmu mendalami sebuah ilmu, maka ia sekmakin merasa butuh ilmu lagi dan bersemangat untuk mendapoatkan lebih banyak lagi. Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan ilmu. Allah berfirman وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا “Dan katakanlah “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Thaha [20] 114 Di antara doa yang sering dibaca oleh Rasulullah adalah doa agar diberi tambahan ilmu. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah n berdo’a اللَّهُمَّ انْفَعْنِى بِمَا عَلَّمْتَنِى وَعَلِّمْنِى مَا يَنْفَعُنِى وَزِدْنِى عِلْمًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ “Ya Allah, berilah aku manfa’at dengan ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, ajarilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah atas setiap kondisi.” HR. Ibnu Majah Rasulullah juga mendorong kita untuk selalu menambah ilmu sampai akhir hayat. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah bersabda لَنْ يَشْبَعَ الْمُؤْمِنُ مِنْ خَيْرٍ يَسْمَعُهُ حَتَّى يَكُونَ مُنْتَهَاهُ الْجَنَّةُ “Seorang mukmin tidak akan pernah merasa kenyang dari kebaikan ilmu yang ia dengarkan sampai pada akhirnya ia masuk Jannah.” HR. At Tirmidzi, ia berkata “Hadits hasan gharib.” Nabi menjadikan sifat bersemangat untuk mencari dan menerima ilmu sebagai ciri keimanan dan sifat seorang mukmin. Beliau mengabarkan bahwa mencari ilmu merupakan langkah seorang mukmin sampai berakhir dengan masuknya ia ke surga.” Miftah Daris Sa’adah, Ibnu Qayyim, I/74 Imam Ibnu Qayyim telah menyebutjkan atsar dari para salaf tentang semangat untuk mencari ilmu. Diantaranya ialah perkataan Imam Ahmad. Beliau berkata أَنَا أَطْلُبُ الْعِلْمَ إلَى أَنْ أَدْخُلَ الْقَبْرَ “Aku akan selalu mencari ilmu sampai masuk ke liang lahat” Al Aadab Asy Syar’iyah, II/127 Hasan ditanya tentang lelaki yang telah berumur 80 tahun, apakah masih layak belajar? Beliau menjawab bahwa ia masih layak belajar salama beliau masih layak hidup. Jika hikmah itu memang milik orang mukmin yang hilang, maka ia wajib untuk mencarinya. Dan hikmah itu adalah ilmu. Jika seorang mukmin kehilangan ilmu maka ia seperti seorang yang kehilangan barang yang sangat berharga. Jika ia mendapatkannya kembali maka hatinya akan senang. Kemudian mari kita simak wasiat Lukmanul Hakim kepada para anaknya. Beliau berkata يَا بُنَيَّ جَالِسْ الْعُلَمَاءَ وَزَاحِمْهُمْ بِرُكْبَتَيْكَ فَإِنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْقُلُوبَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي اللَّهُ الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِوَابِلِ السَّمَاءِ “Wahai anakku, duduklah bersama para ulama’. Berdesak-desaklah untuk mendekatinya dengan kedua lututmu. Karena sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang kering dengan hujan dari langit.” Diriwayatkan oleh Malik Ketika mendekati ajalnya, Mu’adz bin Jabal berkata, “Selamat datang kematian. Selamat datang yang diharapkan kedatangannya disaat dibutuhkan. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak ingin tinggal di dunia ini hanya karena aliran sungainya dan tanaman-tanamannya. Namun aku suka tinggal di dunia untuk berletih-letih pada malamnya yang panjang, merasakan kehausan pada siangnya yang panas, dan berkumpul bersama para ulama’ dalam rombongan halaqah dzikirnya, yaitu halaqah ilmu.” Ibnu Abdil Bari, Jami’ul Bayanil Ilmi, I/51 Imam Nawawi berkata, “Termasuk adab yang harus dimiliki adalah bersemangat untuk mencari ilmu, selalu membiasakan mencarinya dalam setiap waktu yang memungkinkan. Jangan puas dengan yang sedikit jika memang punya kesempatan untuk meraih yang banyak. Jangan juga memaksakan diri terhadap sesuatu yang ia tidak mampui karena dikhawatirkan akan membuat bosan. Dan apa yang telah diperolehnya bisa terlupakan. Hal ini antara satu orang dengan yang lainnya tentu berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing.” Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal. 41 Demikianlah, hendaknya pencari ilmu selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih ilmu, dan memperbanyak menelaah berbagai ilmu. Khususnya ilmu-ilmu yang memang punya kaitan erat dengan ilmu yang hendak ia pelajari seperti ilmu bahasa Arab yang menjadi sarana untuk mempelajari ilmu lainnya. Ilmu adalah penerang bagi berjalannya amal. Amal tanpa ilmu laksana berjalan di kondisi gelap, sukar menuju ke arah yang tepat. Dari banyaknya dalil keutamaan menuntut ilmu, berikut ini beberapa di antaranya 1. Meninggikan derajat “Allah meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.” QS Al-Mujadilah 11 2. Dikehendaki kebaikan oleh Allah “Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, Allah akan mengaruniakan kepadanya paham agama.” HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi 3. Dimudahkan jalan menuju surga “Barang siapa keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, berarti ia berada dalam jihad fi sabilillah hingga ia kembali ke rumahnya. Dan Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga serta menghapuskan dosa-dosanya.” HR Tirmidzi BACA JUGA Makna Ilmu dalam Definisi Fiqih 4. Dihormati malaikat “Para malaikat menghormati para penuntut ilmu.” HR Abu Dawud 5. Wujud Ketakwaan “Belajar ilmu karena Allah adalah takwa, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada yang belum mengetahui dinilai sedekah, memberikannya kepada keluarga berarti takarub kepada Allah taqarrub ilallah.” Muadz bin Jabal ra. 6. Pahala yang tidak terputus “Tiga hal yang tidak memutuskan pahala atas seseorang walaupun ia sudah meninggal dunia, yaitu 1. Sedekah jariah, 2. Ilmu yang bermanfaat, 3. Doa anak yang saleh.” HR Muslim. 7. Wajib bagi setiap muslim “Mencari ilmu agama adalah wajib bagi setiap muslim.” Abu Nashr Samaqandi. “Enggan mencari ilmu agama, dapat menyebabkan masuk neraka.” QS Al-Mulk 10. 8. Makin disebar, makin bertambah “Ilmu lebih baik daripada harta. Harta jika dibelanjakan akan berkurang, tetapi ilmu jika disebarkan akan bertambah.” Ali bin Abi Thalib ra. 9. Hasad yang diperbolehkan Iri kepada ahli ilmu “Hasad atau dengki adalah dilarang oleh agama, kecuali dua hasad yang dibolehkan 1. Hasad kepada orang yang diberi ilmu, lalu ia amalkan dan ajarkan kepada orang lain. 2. hasad kepada orang yang diberi harta, lalu ia menggunakannya di jalan Allah.” Muttafaqun alaih Beberapa Pesan dalam Menuntut Ilmu, “Hendaklah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun jangan melupakan ibadah. Dan jangan sampai beribadah tanpa ilmu.” Hasan Al-Bashri “Orang yang beribadah tanpa ilmu, termasuk merugi, sekalipun ibadahnya seperti malaikat.” Al-Ghazali “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah, seperti keutamaan Nabi saw. atas orang yang terendah di antara umatnya.” HR Tirmidzi “Menuntut ilmu lebih utama dari salat nafilah.” Abu Darda, Asy Syafi’i “Barang siapa keluar rumah untuk mencari ilmu, maka akan banyak kebaikan yang mendatangi rumahnya, dan setan tidak akan berani untuk mendekati rumahnya.” Abu Nashr Samarqandi BACA JUGA Benarkah Menuntut Ilmu Termasuk Jihad? 10. Meniatkan karena Allah “Wajib mencari ilmu dengan niat hanya karena Allah. Jika berniat selain mengharap rida Allah, maka bersiap-siaplah untuk memasuki neraka.” Tirmidzi. “Jika tujuannya adalah kesenangan dunia, maka ia tidak akan mencium keharuman surga.” Abu Dawud. “Barang siapa menuntut ilmu untuk tiga tujuan berikut ini, maka ia termasuk ahli neraka 1 Membanggakan diri kepada ulama. 2 Berdebat dengan orang bodoh. 3 Menarik perhatian orang pada dirinya.” Abu Nashr Samarqandi. Demikianlah beberapa motivasi mengenai keutamaan menuntut ilmu. Semoga kita semua semangat dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya, demi meraih rida Allah SWT. SUMBER MUSLIMAHNEWS loading...Al-Quran dan hadis adalah sumber ilmu dan pengetahuan yang merupakan wasiat dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Foto istimewa Seorang perempuan yang cerdas akan menjadi pendamping yang hebat bagi suaminya kelak, yang dapat mengantarkan pasangannya itu untuk memenuhi kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dengan kedalaman ilmu pula, ia akan dapat mendidik anak-anaknya menjadi pribadi-pribadi baik dan berkualitas, terutama dalam membela agama Allah. Baca Juga Kenapa Islam menganjurkan kaum perempuan harus menuntut ilmu, terutama ilmu agama? Karena ilmu adalah termasuk rukun yang sangat penting untuk membenarkan iman. Sedangkan iman itu sendiri adalah puncak dari agama ini. "Ringkasnya kedudukan ilmu pada keimanan itu seperti kedudukan ruh pada tubuh manusia. Inti kehidupan bagi tubuh manusia adalah keberadaan ruh. Maka seperti itulah, inti kehidupan bagi iman adalah keberadaan ilmu,"tulis Ustadz Abdullah Taslim, era perkembangan arus informasi dan teknologi yang pesat,tidak dapat dipungkiri banyak sumber-sumber pengetahuan yang tidak baik dan bahkan dapat menjerumuskan pada kesesatan. Untuk itulah,perempuan muslimah juga dituntut untuk dapat kritis dalam belajar dan menuntut itu perempuan muslimah perlu untuk selalu melihat kebenaran dari ilmu atau informasi yang diperoleh dengan merujuk pada siapakah yang menyampaikan informasi tersebut, bagaimana latar belakang keilmuan yang dimilikinya, dan yang terpenting apakah informasi atau ilmu yang disampaikannya sesuai dengan sumber ilmu utama kita yaitu Al-Qur'an dan hadis . Baca Juga Al-Qur'an dan hadis adalah sumber ilmu dan pengetahuan yang merupakan wasiat dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau bersabda; “Aku tinggalkan ditengah-tengah kalian dua perkara. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah Al-Qur’an dan Sunnahku hadis.”HR. Malik, Al-Hakim dan Baihaqi.Selain Al-Qur'an dan hadis, perempuan muslimah dapat belajar dari sumber lain seperti Sirah Rasulullah, Sirah Para Shahabat dan Shahabiyah, Sirah Nabawiyah, dan Kitab-Kitab Ulama Klasik. Sumber-sumber ilmu tersebut akan memperkaya pengetahuan agama. Bila perlu, muslimah juga dapat mengikuti atau mendengar majelis-majelis ilmu, yang banyak tersebar luas di era sekarang. Bisa melalui media sosial, radio atau juga televisi dengan berbagai tema kajian baik tadabur Quran, sirah dan lainnya akan memudahkan kita untuk juga dengan mencari sumber-sumber ilmu yang terpercaya dari buku-buku, dari internet atau dari sahabat yang sering menghadiri majelis-majelis ilmu. Tentu, alangkah baiknya jika sesekali menyempatkan hadir pada majelis-majelis ilmu tersebut, entah sendiri atau mungkin bersama keluarga. Jika kita masih sempat untuk pergi ke pusat-pusat perbelanjaan sekadar berkumpul bersama sahabat atau keluarga, cobalah sesekali berubah haluan untuk pergi menghadiri pengajian yang diadakan di sekitar rumah. Baca Juga "Ketika sudah biasa, kita akan merasakan nikmatnya menuntut ilmu di majelis-majelis ilmu dan bertemu sahabat-sahabat baru yang selalu mengajak pada kebaikan dan mempelajari hal-hal yang sebelumnya belum diketahui. Bahkan, bisa jadi mengkaji dan menghadiri majelis-majelis ilmu ini, suatu saat akan menjadi kebiasaan dan gaya hidup baru kita sebagai perempuan muslimah,"tutur dai asal Jakarta Menuntut Ilmu Bagi MuslimahDirangkum dari beberapa sumber, untuk dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat, ada adab-adab dalam menuntut ilmu yang sebaiknya kaum perempuan muslimah lakukan, niat menuntut ilmu karena Allah Ta’ ilmu yang dalam menuntut ilmu Baca Juga Seperti diungkapkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya “Sesungguhnya ilmu yang diperoleh dengan sungguh-sungguh belajar, dan sikap sabar penyantun diperoleh dengan membiasakan diri untuk sabar. Barangsiapa yang berusaha keras mencari kebaikan maka ia akan memperoleh kebaikan dan barangsiapa yang menjaga dirinya dari kejelekan kejahatan maka ia akan dilindungi Allah dari kejelekan kejahatan.” Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam al’ilal mutanaahiyah dari Abu Hurairah radiyallahu anhu diri dari dosa dan maksiatImam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya ad-Daa’ wad Dawaa´ bahwa seseorang tidak mendapat ilmu disebabkan dosa dan maksiat yang dilakukannya. Dosa yang paling besar adalah syirik dan durhaka kepada orangtua. Serta dosa-dosa besar lainnya, seperti makan harta orang lain, utang tidak dibayar, muamalah riba, minum khamr, makan dan minum dari usaha yang haram, membuka aurat di depan yang bukan mahramnya, dusta, ghibah, dan memfitnah seorang muslim. Termasuk sulit untuk menahan gerak dengan baik ilmu yang disampaikan Ditulis dalam kitab Ta’lim Muta’alim; dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa syarat untuk mendapatkan suatu ilmu terdiri dari 6 perkaraاٙلٙالٙا تٙنٙالُ الْعِلْمٙ اِلّٙا بِسِتّٙةٍ. سٙاُنْبِكٙ عٙنْ مٙجْمُوْعِهٙا بِبٙيٙانٍذٙكٙاءٍ وٙحِرْصٍ وٙاصْطِبٙارٍ وٙبُلْغٙةٍ. وٙاِرْشٙادِ اُسْتٙاذٍ وٙطُوْلِ زٙمٙانٍArtinya “Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi 6 perkara, saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci, yaitu kecerdasan, sungguh-sungguh, kesabaran, ada biaya, ada bimbingan guru, dan waktu yang lama.”Dalam syair di atas telah dijelaskan bahwa dalam menuntut ilmu terdapat beberapa syarat yang dianjurkan untuk dipenuhi, agar ilmu yang dicari dan didapatkan bisa menjadi Dzakaun KecerdasanPerkara pertama untuk mendapatkan suatu ilmu adalah kecerdasan. Cerdas yang dimaksud disini adalah cerdas yang sudah Allah anugerahkan kepada setiap dengan kita menuntut ilmu, kita hanya tinggal untuk mengembangkan kecerdasan yang kita miliki. Menurut beberapa ulama, kecerdasan itu terbagi menjadi dua, yaituMuhibbatun Minallah kecerdasan yang diberikan oleh Allah SWT. Dimana kecerdasan ini biasanya memiliki tingkat dalam menghafal suatu ilmu itu kuat dan daya talar yang Kecerdasan yang diperoleh dengan cara kita berusaha semaksimal mungkin. Dimana kecerdasan ini biasanya kita dapat peroleh dengan cara menulis, mencatat, merangkum, dari ilmu yang Hirsun Sungguh-SungguhDalam menuntut ilmu jika kita tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh didalam diri kita, maka sangat sulit untuk bisa memperoleh ilmu ketika kita mendatangi majelis ilmu, kita mendengarkan ilmu yang disampaikan dengan seksama, duduk di barisan paling depan, dan tidak mengobrol. Karena terkadang tempat duduk yang kita tempati juga mempengaruhi pada ilmu yang juga sering mendengar salah satu mahfudzot yang berbunyi seperti iniمٙنْ جٙدّٙ وٙجٙدٙ“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dapatlah ia”Jadi barangsiapa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu maka kita akan memperoleh ilmu Isthobarun SabarSeseorang yang mencari ilmu kita dianjurkan untuk bersabar dalam segala hal. Baik itu dalam perjalanan yang kita tempuh, sifat guru yang sulit dimengerti, ilmu pelajaran yang sulit untuk dipahami, atau bahkan tugas yang banyak dan harus sesuatu rintangan dan godaan dalam menuntut ilmu kita diharuskan untuk bersabar, karena dalam salah satu mahfudzot juga dituturkan yang berbunyiمٙنْ صٙبٙرٙ ظٙفِرٙ“Barangsiapa yang bersabar maka beruntunglah ia”Didalam firman Allah juga disebutkan “Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang bersabar.” Jadi kita tidak perlu khawatir karena ada Allah selalu di sisi orang-orang yang Bulghatun BiayaMenuntut ilmu juga diperlukan biaya yang cukup. Walaupun ada beberapa lembaga pendidikan yang berfasilitas gratis Tidak membayar apapun, tetapi tetap saja kita harus membeli perlengkapan sekolah lainnya seperti baju seragam, ongkos untuk pergi ke sekolah, bekal yang harus dibawa, dan lain sebagainya. Jadi menuntut ilmu juga diperlukan biaya yang harus kita persiapkan, agar tercapainya mencari ilmu Irsadun Ustadzin Bimbingan GuruPerkara yang kelima ini cukup penting dalam syarat menuntut ilmu. Kita para pencari ilmu memerlukan bimbingan guru, agar andaikan jika kita dalam perjalanan kita tidak akan yang mengingatkan kita selalu jika kita berada dijalan yang salah. Boleh saja kita belajar dengan cara otodidak, akan tetapi alangkah baiknya kita tetap mencari guru untuk belajar. Dan supaya segala ilmu yang kita cari akan memperoleh keberkahan dari seorang bimbingan Thaul Zaman Waktu Yang LamaSeseorang yang mencari ilmu diperlukan waktu yang lama. Tidak ada waktu yang singkat dalam menuntut ilmu. Di negara ini dianjurkan menempuh pendidikan selama 12 tahun yakni dari SD hingga SMA. Selama 12 tersebut bukankah waktu yang cukup lama?Apalagi jika kita ingin melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, bukankah dibutuhkan waktu yang lama lagi? Imam Al-Baihaqi berkata “Ilmu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan kita meluangkan waktu”Itulah 6 perkara yang harus kita perhatikan bagi para penuntut ilmu agar kita memperoleh ilmu yang kita cari.

bersungguh sungguh dalam menuntut ilmu